Verifikasi akun M88 adalah proses KYC (know your customer): operator meminta bukti identitas, biasanya KTP, untuk memastikan pemilik akun adalah orang dewasa yang benar-benar ada. Namun di Indonesia judi online berstatus ilegal, sehingga menyerahkan KTP ke situs semacam ini membawa risiko yang tidak ada pada KYC bank atau e-wallet.
Apa itu KYC dan kenapa KTP diminta?
KYC adalah prosedur mencocokkan data pendaftar dengan dokumen identitas. Tujuan yang lazim disebutkan: memastikan usia, mencegah satu orang memegang banyak akun, dan menahan pemakaian akun untuk pencucian uang. Di lembaga keuangan berizin, alasan ini sah dan diawasi regulator.
Contoh situasinya: seorang pengguna mendaftar dengan mudah, bermain beberapa hari, lalu baru diminta foto KTP ketika hendak menarik dana. Suara.com mencatat banyak situs judol memang meminta NIK KTP saat pendaftaran atau penarikan dana, baik diketik manual maupun lewat unggahan foto KTP.
Di sinilah pendapat redaksi: untuk situs yang tidak berizin di Indonesia, permintaan KTP tidak otomatis berarti situs itu serius mengelola keamanan. Suara.com menyebut data tersebut dipakai sebagai “verifikasi identitas” agar akun tampak lebih sah, dan situs ilegal kerap memakai NIK curian.
Apa yang terjadi setelah daftar akun?
Setelah pendaftaran, pengguna biasanya diarahkan ke tahap melengkapi profil dan verifikasi. Untuk melihat seperti apa gerbang pendaftaran dan login yang dimaksud, tersedia halaman akses akun M88, situs taruhan olahraga yang menyediakan pendaftaran dan login bagi pemain dewasa. Rincian dokumen dan waktu proses tidak bisa kami pastikan, karena belum ada sumber resmi yang kami verifikasi tentang prosedur KYC di sana.
Yang bisa dijelaskan hanyalah pola umum proses verifikasi akun di platform sejenis. Urutannya biasanya seperti berikut, dan ini bukan konfirmasi untuk M88:
- Pengguna mengunggah foto KTP.
- Pengguna mengirim swafoto (selfie) untuk dicocokkan dengan KTP.
- Pengguna menunggu persetujuan dari tim verifikasi.

Ảnh: Daniel Case, Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Apa bedanya KYC resmi dengan KYC di situs tanpa izin?
Perbedaan ini sering terlewat dalam panduan yang beredar. Tabel berikut merangkum perbandingannya secara umum.
| Aspek | KYC bank / e-wallet berizin | Verifikasi di situs judi tanpa izin di Indonesia |
|---|---|---|
| Status hukum kegiatan | Sah, berada di bawah pengawasan regulator keuangan seperti OJK | Perjudian dilarang menurut KUHP dan UU ITE |
| Jalur pengaduan | Ada mekanisme pengaduan resmi | Tidak ada mekanisme pengaduan yang sah secara hukum |
| Kewajiban atas data | Pengendali data terikat UU PDP | Sulit ditegakkan karena pengelola berada di luar jangkauan hukum Indonesia |
| Risiko bagi pemilik KTP | Rendah jika lembaganya resmi | KTP bisa disalahgunakan untuk rekening penampung atau pinjol |
Seperti apa tanda proses verifikasi yang mencurigakan?
Ada tiga tanda yang cocok dengan temuan Suara.com dan peringatan Komdigi. Pertama, KTP diminta sejak detik pendaftaran, sebelum ada penjelasan apa pun. Kedua, dokumen diminta lewat chat atau WhatsApp, bukan lewat formulir di dalam situs. Ketiga, tidak ada kebijakan pengolahan data yang bisa dibaca.
Contohnya: petugas layanan pelanggan di WhatsApp meminta foto KTP dan selfie sambil memegang KTP, tanpa menyebut untuk apa data itu disimpan dan berapa lama. Bagi redaksi, situasi seperti ini sudah cukup alasan untuk berhenti.
Bagaimana jika KTP sudah terlanjur dikirim?
Langkah berikut adalah saran umum dari redaksi, bukan temuan dari sumber resmi, dan tidak menjadikan pengiriman KTP ke situs mana pun “aman”. Beri watermark yang menuliskan tujuan dan tanggal pengiriman. Tutup informasi yang tidak diperlukan, dan simpan bukti bahwa Anda pernah mengirimkannya. Pantau juga rekening, pinjol, dan nomor ponsel yang mungkin terdaftar atas nama Anda.
Jika ingin membaca ketentuan verifikasi langsung dari sumbernya, rujukan yang tersedia adalah https://m88.inc/ , yang memuat gerbang pendaftaran dan login akun untuk pemain dewasa. Bacalah syarat dokumen di sana, bukan dari pesan pihak ketiga yang mengaku sebagai petugas.
Soal hak, UU PDP No. 27 Tahun 2022 mewajibkan pengendali data menghapus data pribadi yang tidak lagi diperlukan untuk tujuan pemrosesan. Itu disebut dalam artikel opini di Kumparan, jadi sebaiknya cek bunyi pasalnya di naskah aslinya. Komdigi juga menegaskan bahwa data pribadi yang sudah beredar tetap data pribadi dan tidak bebas disebarluaskan lagi.
Apa risiko hukum dan keuangannya di Indonesia?
Pasal 27 ayat 2 jo. Pasal 45 ayat 2 UU ITE melarang perjudian online. Menurut Komdigi, pihak yang sengaja mendistribusikan atau membuat judi online dapat diakses diancam penjara maksimal 6 tahun dan/atau denda maksimal Rp1 miliar. Ancaman itu tertuju pada penyelenggara dan pendistribusi, tetapi status ilegal kegiatannya tetap melekat.
Tekanan juga datang dari sisi keuangan. Menurut Kontan (14 Juli 2026), sejak 20 Oktober 2024 sampai 12 Juli 2026 Komdigi men-takedown lebih dari 3 juta situs dan konten terkait judi online, dan 32.453 rekening judi online berhasil diblokir. Komdigi juga meminta bank memperketat KYC, sehingga rekening yang dipakai untuk transaksi terkait judol berisiko ditandai atau dikunci.
Satu peringatan lagi: Komdigi menyatakan tidak pernah meminta atau menyimpan data pribadi masyarakat terkait judi online. Jika ada pihak mengaku dari Komdigi dan meminta KTP, anggap itu penipuan.
FAQ
Apakah M88 legal di Indonesia?
Redaksi tidak menemukan sumber yang menyatakan M88 berizin di Indonesia (link M88). Yang pasti, judi online dinyatakan ilegal di sini, sehingga Anda sebaiknya tidak menganggap situs apa pun otomatis sah.
Berapa lama proses verifikasi?
Tidak ada data terverifikasi tentang durasi verifikasi M88. Waktu proses sangat bergantung pada kebijakan masing-masing platform, jadi jangan percaya klaim durasi dari pesan yang tidak jelas asalnya.
Apa yang layak dipantau berikutnya?
Perhatian pemerintah kini bergeser dari sekadar memblokir situs ke seluruh ekosistem judol, terutama rekening penampung, kata Menkomdigi Meutya Hafid. Pada saat yang sama, Komdigi bersama Polri mengusut dugaan jual beli data ilegal. Menurut redaksi, dua hal ini menjadikan KTP sebagai titik paling rawan: makin ketat pengawasan bank, makin besar nilai identitas curian bagi jaringan yang butuh rekening baru.
